Keinginanku waktu itu untuk memiliki sebuah mobil memang menggebu-gebu, sebagai identitas diri dan sebagai aktualisasi diri itulah kira-kira alasan noraku waktu itu.
Tak hanya itu, selain keinginnan untuk memiliki mobil, akupun tergolong orang yang agak sok memiliki selera tinggi terhadap merek mobil, ” memang pejabat aja yang punya selera tinggi ” pikirku mengafirmasikan seleraku tersebut.
Dengan bermodalkan 95 % nekat dan 5 % dukungan keuangan, ku bulatkan tekatku untuk membeli sebuah mobil mewah hitam buatan Jerman, sebut saja Mercy.
Meskipun waktu itu harganya murah, tapi yang penting Mercy. Sehingga jika ada orang atau teman yang bertanya tentang mobil apa yang kupakai, maka kujawab dengan mantap, ”Mercy”, meskipun agak malas kujelaskan bahwa usia mobilku itu jauh lebih tua dari usiaku sendiri.
