Film itu sungguh mengesankan dan mengerikan saat itu, sangat teringat dan melekat di benakku. Betapa tidak, dari zaman SD hingga Kuliah, setiap tahun disuguhi film yang ber genre perjuangan namun juga sadisme. Ketika itu memang tak ada yang merasa salah dengan film itu, kita di doktrin untuk mengikuti alur cerita, seolah-olah begitulah fakta sejarah membuktikan. Setiap tanggal 30 September malam hari, biasanya sudah ku siapkan mental untuk selalu melihat film itu meski terkadang pada adegan-adengan tertentu terpaksa kututup mukaku dengan sarung atau bantal. Kututup mukaku bukan karena ada adegan pornografinya tapi karena ada adegan yang saat itu benar-benar sadis, apalagi film itu pasti diputar dimalam hari.