Friday, 29 June 2012

B E K E R J A


Dulu sewaktu lulus kuliah, harapan ku adalah bekerja dan mungkin kebanyakan orang seumurku atau siapapun juga akan berfikiran setelah lulus sekolah atau kuliah, maka sesegera mungkin mendapatkan perkerjaan ataupun ber wirausaha. Stigma ini sudah tertanam sebagai symbol sebuah kesuksesan dalam menuntut ilmu yang di lanjutkan dengan mendapatkan sebuah pekerjaan.


Sebagai manusia yang tinggal di dunia dengan segala kebutuhan fisik atau materi sebagai penunjangnya, maka sudah sewajarnya jika kita bekerja dan menerima imbalan atas jerih payah kita. Biasanya semakin tinggi tingkat ilmu dan keahlian yang kita kuasai maka berbanding lurus dengan gaji atau upah yang kita dapatkan.

Namun apakah hanya itu makna bekerja yang sesungguhnya..?  tentu saja tidak. Bekerja tidak bisa hanya dilihat dari sudut pandang sebuah kesuksesan setelah selesai menempuh pendidikan, atau hanya sekedar kewajiban sebagai manusia yang membutuhkan segala kebutuhan duniawi. Jika kita hanya sekedar memandang makna bekerja dari sudut pandang tersebut. Maka tak ubahnya kita hanya menjadi kuli di dunia yang hanya mendapatkan kenikmatan sesaat yang tidak pernah merasa puas. Jika kita menemukan makna terdalam dari bekerja, sebenarnya adalah sebuah perjalanan spiritual untuk menuju Tuhan. Bagaimana tidak..? bukankan bekerja itu adalah ibadah.?.

Jika persepsi yang kita bentuk adalah bekerja merupakan sebuah perjalanan spiritual untuk menuju Tuhan maka sebuah kesadaran niat iklas dan tulus dalam bekerja akan muncul sendirinya. Sedangkan hasil dari bekerja adalah sebuah konsekuensi logis yang merupakan hak kita untuk menerimanya. Bekerja iklas merupakan gambaran spiritual manusia yang tidak hanya melihat kehidupan duniawi saja, namun kesadaran bahwa sebenarnya manusia itu adalah mahluk spiritual yang meminjam fisik duniawi ( badan kita) untuk sebagai syarat tinggal di dunia. Sebagai mahluk spiritual sudah seharusnya kita melibatkan spiritualitas kita untuk kehidupan di dunia agar lebih berimbang antara kehidupan dunia dan kehidupan spiritual. Sehingga sebuah makna hidup itu tidak saja tercermin dari seberapa harta yang kita punya, seberapa tinggi jabatan kita atau seberapa tinggi tingkat sosial kita.

Sebuah pekerjaan yang kita lakukan dengan niat iklas, tidak saja membuat hasil pekerjaan itu menjadi baik, namun jiwa yang mengerjakanya pun akan merasa bahagia. Sebuah pekerjaan yang kita kerjakan dengan menyertakan spiritualitas kita, akan membuat kita merasa berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Dan pekerjaan yang kita kerjakan dengan melibatkan spiritualitas akan membuahkan hasil yang tentunya berkah bagi kita dan keluarga kita.

Jika bekerja itu adalah ibadah, maka berikanlah perlakuan yang sama seperti halnya ketika kita melakukan ibadah yang lain. Jika kita melakukan sholat begitu khusu dan iklas, maka dalam bekerjapun seharusnya juga begitu. Jika kita berdoa begitu khusunya kepada Tuhan agar diberikan keselamatan dunia dan ahirat maka sudah seharusnya dalam bekerja pun memiliki nawaitu yang sama. Tak bisa dibayangkan jika orang yang begitu rajinya ibadah, namun dalam bekerja justru banyak melakukan pelanggaran bahkan bertolak belakang dengan ibadah yang lain, berarti baginya bekerja adalah bukan merupakan ibadah namun hanya sekedar memperkaya fisik duniawi. Lalu dimana letak konsistensi makna ibadah jika diantara kegiatan ibadah tersebut memiliki kadar kualitas yang berbeda-beda.

Sebuah pekerjaan yang kita kerjakan dengan sebuah niat semata-mata ibadah, sudah pasti dikerjakan tidak hanya menggunakan fisik saja, tapi keterlibatan perasaan dan spiritual kita akan menuntun kita kearah yang lebih baik. Dengan begitu penyimpangan dalam bekerja akan terdilusi. Ingatlah kita hidup didunia ini tidak semata-mata mengumpulkan materi duniawi saja. Namun sebagai mahluk spiritual, kita setiap saat bisa saja meninggalkan fisik duniawi yang kita pinjam untuk sementara. Dan ketika kita kita meninggalkan fisik duniawi bukan berarti ahir dari semuanya, karena energy kita tetap abadi untuk menjalani kehidupan selanjutnya sebagai mahluk spiritual ( Itulah Hukum Kekekalan Energi)

Jika kita belum memahami prinsip bekerja adalah ibadah dan merupakan perjalanan spiritual menuju Tuhan, maka sebenarnya kita tidak memahami sejatinya hakikat tentang hidup dan kehidupan yang sebenar-benarnya. Kalopun kita memahami prinsip tersebut, maka itu hanya sekedar bahasa langit yang sudah dikenal dimana-mana atau sebagai prinsip yang indah untuk dijadikan nasihat belaka. Alangkah baiknya jika tidak hanya sekedar memahami namun juga manjadi bagian dari prinsip tersebut. Trimakasih (WD)

No comments:

Post a Comment