Monday, 30 April 2012

MAY DAY



Pada tanggal 1 mai merupakan hari buruh sedunia yang biasa di sebut MAY DAY. Peringatan MAY DAY ini untuk memperingati atau merayakan keberhasilan ekonomi dan sosial para buruh. Namun apakah perayaan-perayaan yang selama ini di negri kita selalu dilakukan sejak tahun 2009 merupakan ekspresi sebuah keberhasilan yang dicapai oleh serikat buruh di Indonesia. Nyatanya bukan sebuah ekspresi keberhasilan, buruh tetap menuntut bermacam-macam hak mereka yang memang masih banyak yang diabaikan oleh perusahaan. Jika melihat perkembangan nasip para buruh di Indonesia terkadang memang memprihatinkan. Keadaan ini tak lepas dari peran pemerintah dan DPR dalam merumuskan undang-undang ketenagakerjaan. Dan yang terjadi memang pemerintah dan DPR belum atau tidak berpihak kepada nasip para buruh.



Negri ini memang pasar yang sangat potensial untuk didirikanya bermacam-macam industri dan perusahaan dari dalam dan luar negri. Selain tingkat konsumsi masarakat yang tinggi, juga tingkat upah buruh yang masih rendah, sehingga biaya produksi dari perusahaan dapat ditekan. Tingkat upah yang rendah dari para buruh ini menjadi daya tarik para investor dalam dan luar negri untuk mendirikan berbagai industri. Tingkat upah yang rendah ini pula yang menjadi bargaining power dari para investor, mengingat negri ini memiliki banyak sekali pengangguran baru setiap tahunya, sehingga dengan kata lain “dari pada nganggur mendingan kerja dengan gaji seadanya”. Jika prinsip “daripada nganggur lebih baik kerja dengan gaji seadanya” ini terus menerus menjadi acuan bagi para pencari kerja, maka sudah pasti akan terjadi peringatan MAY DAY yang tidak semata memperingati atau merayakan hari buruh, namun akan berlanjut dengan berbagai tuntutan-tuntutan kesejahteraan oleh kaum buruh. Dan sudah dapat dipastikan pihak-pihak yang melakukan aksi turun kejalan itu di dominasi oleh kaum buruh yang masih belum atau jauh dari tingkat kesejahteraanya.

Jika dibandingkan dengan Negara-negara tetangga terdekat kita, maka memang negri ini sangat ketinggalan dalam hal kesejahteraan para buruh nya. Sebut saja di Singapore, Malaysia atau Brunei Darussalam, mereka berhasil mensejahterakan para buruhnya jauh diatas kesejahteraan buruh di negri ini. Bahkan banyak para TKI, justru ikut mengais rizki di negri tersebut karena tingkat upah yang jauh di banding dinegri ini. Berdasarkan pengalaman beberapa kali berkunjung ke negri tetangga dan melihat kondisi TKI yang bekerja sebagai buruh, pelayan restaurant dan pembantu rumah tangga di negri tetangga. Maka asumsi saya mengatakan bahwa para TKI tersebut memang terpaksa bekerja di luar negri karena ketidakmampuan pemerintah untuk menyediakan lapangan kerja. Dari sisi penghasilan, anggap saja seorang waiters di sebuah restaurant memiliki penghasilan 2,5jt sd 3jt / bulan dengan pengalaman kerja nol dan ijasah SMP atau SMA. Seorang asisten rumah tangga dengan non ijasah ataupun SMP memiliki penghasilan 1,5jt s/d 2 jt /bulan. Memang tidak begitu besar penghasilan mereka, namun pendapatan sebanyak itu tidak akan mereka dapatkan di negri ini. Bayangkan saja standar gaji seorang Sarjana yang baru lulus atau fresh graduate hanya 1,7 s/d 2 jt/bulan yang lebih rendah dari gaji seorang waiter hamper sama dengan gaji asisten rumah tangga di luar negri. Seorang sarjana fresh graduate di negri tetangga bisa mandapatkan standar gaji 8jt s/d 10jt atau bahkan lebih. Sehingga para buruh dinegri tetangga lebih memilih untuk tetap bekerja daripada harus turun kejalan, ber demonstrasi untuk menuntut kesejahteraan.

Apa yang salah dengan buruh di negri ini, sehingga untuk menuntut hak saja harus melakukan aksi-aksi demontrasi turun kejalan, bahkan harus bentrok dengan aparat. Memang serba salah menjadi pemerintah, dilain sisi keberhasilan seorang pemimpin adalah manakala melihat rakyat dan buruhnya sejahtera. Namun berbagai kepentingan politik dan kepentingan bisnis pun juga harus di akomodasi. Dan berbagai kepentingan tersebut terus menyandera pemimpin nengri ini sehingga susah untuk melakukan berbagai perubahan yang signifikan bagi terciptanya kesejahteraan kaum buruh.

Terkadang memang tak bisa dipungkiri, banyak para pencari kerja di negri ini yang tidak memiliki kemampuan yang memadai meskipun mereka para sarjana. Jadi ketika mereka bekerjapun kualitasnya juga sangat standard dan apa adanya. Kondisi ini tentu sangat merugikan perusahaan yang mempekerjakan  mereka, tapi mereka menuntut upah yang tinggi dan kesejahteraan lainya. Dinamika ini sering terjadi di perusahaan-perusahaan yang memiliki karyawan atau buruh semacam itu, dengan produktifitas standar tapi menuntut upah yang tinggi.

Jika tingkat kemampuan seseorang dalam bekerja atau berusaha itu tinggi, maka sudah dapat dipastikan tingkat produktifitas dalam bekerja juga tinggi dan garis lurus dari kesejahteraanya akan mengikuti seiring dengan kemampuanya. Jadi jangan berharap perusahaan akan menggaji dengan tinggi jika karyawan tidak meningkatkan kinerja dan produktifitasnya. Standar sebuah kesejahteraan setiap orang memang bervariasi tergantung dari tingkat kebutuhanya akan makna sebuah kesejahteraan. Ada kalanya orang cukup sejahtera dengan kesederhanaan, namun denga kekayaan melimpah pun orang masih ada yang merasa belum sejahtera hidupnya.

Ketika akal bekerja, maka semua peluang untuk menuju sejahtera akan terbuka. Akal bekerja tanpa batas, ketika kita bekerja diperusahaan yang membatasi tingkat penghasilan atau tingkat kesejahteraan, maka akal mampu untuk memberikan peluang kesejahteraan di berbagai tempat usaha yang lain. Jadi jika sebuah perusahaan tidak mampu untuk mensejahterakan buruh nya karena sebuah keterbatasan, maka kesejahteraan itu dapat kita temukan diberbagai peluang yang telah akal berikan kepada kita, maka berusahalah.  
Buruh merupakan semua komponen masarakat yang bekerja di sebuah instansi pemerintah maupun suasta, pabrik dan komponen non formal lainya. Maka ketika kebersamaan dalam menuntut hak secara ekonomi tidak di akomodai oleh pihak terkait atau pemerintah maka sebuah kekawatiran dapat saja terjadi seperti kejadian awal-awal terjadinya rentetan pemogokan buruh karena perkembangan kapitalis barat. Semakin ramai dan banyak jumlah para buruh yang turun kejalan saat peringatan MAY DAY berlangsung sebenarnya mengisaratkan semakin rendahnya tingkat kesejahteraan buruh di sebuah negri. Trimakasih (WINDTRA)                  

No comments:

Post a Comment