Wednesday, 4 April 2012

DOAMU DAN DOSAMU




Rasa-rasanya semua manusia pernah berharap sesuatu yang dikehendakinya, namun kepada siapa mereka berharap, tentu tidak semua manusia memiliki kesamaan dalam pengharapanya. Berharap untuk selamat dan sukses adalah harapan setiap manusia. Namun kepada siapa harapan itu diajukan, tentu menjadi sebuah pilihan masing-masih pihak. Ada kalanya jika keingingan untuk diberikan gaji yang cukup dari perusahaan, maka kita berharap kepada boss kita dikantor. Dan ada kalanya kita berharap agar Negara kita ini menjadi Negara yang makmur, maka kepada pemimpin negaralah kita berharap. Tapi itulah harapan yang bisa dilakukan dalam bentuk sebuah ke kongkritan duniawi yang nampak dalam pandangan mata.



Ketika ketika sebuah harapan tersebut menjadi sebuah realitas, maka ucapan syukur dan terimakasih tentuk kita ucapkan kepada pihak yang telah mewujudkan harapan tersebut. Pihak itu bisa berupa manusia, atau apapun yang turut berkontribusi dalam terwujudnya sebuah harapan.

Sebuah harapan memang terkadang dapat terwujud atau pun tidak, dan jika harapan itu dapat terwujud, tentu ada campur tangan pihak ketiga siapapun itu. Dan jika harapan itu tidak atau belum terwujud, maka bisa jadi harapan kita tidak sungguh-sungguh atau memang ada kehendak lain terhadap harapan itu.

Bagi manusia yang memiliki keyakinan, maka makna kata “berharap”, bisa dikonotasika dengan doa. Namun makna doa seharusnya berkonotasi positif. Jika sebuah doa di ucapkan oleh seseorang untuk memohon kebaikan, keselamatan bagi dirinya, maka tentu permohonan doa itu di ajukan kepada Tuhanya. Dan doa bisa dikabulkan ataupun juga belum, bahkan  tidak terkabul dengan segala alasan yang hanya Tuhan lah yang tahu.  Jika sebuah doa dari seseorang itu terkabul, mungkin memang orang tersebut berdoa dengan kejujuran, ketulusan jiwa dan ketulusan hati. Namun apa reaksi seseorang jika doanya tidak terkabul…?  Macam-macam lah reaksinya…katanya Tuhan tidak sayang, atau Tuhan tidak mendengar doanya dan lain-lain.

Sebuah doa itu, seyogyanya di ajukan atas dasar sebuah harapan yang baik dari jiwa yang tidak bersalah atas sebuah kezoliman atau ketidak mampuan. Sebuah doa di ajukan atas dasar kebenaran yang tentu Tuhan lebih tahu kadar kebenaranya dari manusia. Namun adakalanya manusia yang bersalah dan penuh dosa pun memiliki harapan dan doa atas kesalahan dan dosa yang diperbuatnya. Seorang pendosa berharap dan berdoa agar diberikan keselamatan pada dirinya dan pada keluarganya, seorang pendosa berharap dan berdoa agar diberikan berlimpah harta dan kekayaan. Kepada siapa mereka berdoa, tentu kepada Tuhan atas keyakinanya. Dan apakah Tuhan adil jika mengabulkan doa para pendosa….? Ada kalanya seorang terpidana yang masih menjalani persidangan selalu berdoa agar segera divonis bebas, padahal secara hukum dimasyarakat dia telah melanggar norma hukum. Pertanyaanya, apakah doanya serius atau tidak, iklas atau tidak, dan akan dikabulkan atau tidak.  Bahkan doapun dilakukan oleh siapapun dalam kondisi terjepit.  

Seorang koruptor yang belum tertangkap saja setiap malam pasti akan berdoa agar diberikan keselamatan dirinya dan keluarga, kenyamanan, kelimpahan rizki, padahal dia sendiri menyadari bahwa dia adalah seorang koruptor dan hidup dalam jalan yang salah. Dari sisi ketulusan dan kejujuran hati, tentu orang semacam ini sudah membohongi dirinya sendiri dan tentu membohongi Tuhanya. Dan apakah Tuhanya  akan mengabulkan doanya…? Kalo aku yang jadi tuhanya, tentu doa orang semacam itu akan kutolak mentah-mentah dan akan kutuk dia jadi kambing Qurban karena akan lebih bermanfaat bagi manusia, namun Tuhan yang sesungguhnya tentu tidak sejahat dan sepelit aku. Jadi apapun hasil doa dari orang tersebut, tentu Tuhan punya alasan sendiri, dan jika ku analisakan sendiri secara sederhana terhadapa terkabul atau tidaknya doa orang tersebut, maka bisa ku simpukan bahwa, jika Tuhan tidak mengabulkan permintaan, harapan dan doanya, itu karena Tuhan sayang sama dia, justru Tuhan berharap agar dia segera dihukum, disucikan kembali harta dan hatinya, dan memuali hidup kembali secara bersih. Namun jika permintaan, harapan dan doanya terkabul, sebenarnya Tuhan juga masih sayang sama dia, dan masih memberikan waktu untuk bertobat dengan cara yang lebih terhormat.

Maka berhikmatlah dalam setiap doa yang yang terucap dan dampak yang di timbulkan dari sebuah doa. Tuhan memiliki alasan sendiri atas doa yang kita panjatkan. Apapun bentuk dari konsekwensi sebuah doa, maka berfikirla dan cermatilah secara positif sehingga nurani akan terbuka. Trimakasih (WD)

No comments:

Post a Comment