Monday, 17 October 2011

S A M B A L





Rasanya memang tak lengkap bagiku jika makan tidak ada sajian sambal yang terhidang. Seleraku akan sambal memang begitu menggebu-gebu sehingga jika makan tanpa sambal seolah-olah serasa hambar. Tapi memang tak semua orang dapat menikmati rasa sambal yang luar biasa. Bahkan tak sedikit orang yang benar-benar anti terhadap sambal. Mungkin karena rasanya yang pedas dan bisa berdampak pada pencernaan, jika tidak kuat.

Namun demikian sambal memang sebuah fenomena makanan khas di negriku yang dapat mengundang selera makan menjadi meningkat. Bahkan jika di kampung, makan nasi panas dengan sambalpun serasa nikmat. Tak heran jika terkadang harga bahan baku sambal pun pernah meningkat dengan tajam karena memang konsumsi sambal atau yang berkaitan dengan bahan bakunya yaitu cabai juga meningkat.



Kebiasaanku mengkonsumsi sambal memang sudah dibiasakan dari kecil karena memang keluarga besarku favorite terhadap sambal, dan tak jarang aku sampai menangis kepedasan setelah makan sambal. Dan pernah suatu ketika aku sampai harus berkali-kali duduk mengendarai closet karena harus buang air akibat dampak kekerasan sambal. Namun demikian tak pernah aku jera terhadap siksaan sambal meski terkadang aku harus menyesal setelah perut ini rasanya harus dikuras. Dampak dari kekerasan sambal ini memang sungguh menyiksa perut dan waktuku. Bahkan aku pernah sehari harus 8 kali bolak balik mengendarai closetku kembali, karena amukan si cabai yang berada diperutku. 

Namun, ketika suasana telah menjadi normal kembali, penyesalan yang ada saat dampak sambal itu menderaku serasa sirna semua. Penyesalan mengkonsumsi sambal yang begitu dalam saat sakit perut menyiksaku seakan tak pernah terjadi dan siap untuk mengkonsumsi sambal kembali. Begitu dahsyatnya daya tarik sambal itu saat kondisiku sudah normal kembali.

Memang sesuatu yang nikmat itu terasa indah saat kita nikmati, tapi begitu menyiksa saat dampak buruknya datang. Sambal itu laksana heroin yang begitu memberikan ketagihan kepada para penggemarnya, dan menimbulkan penyesalan saat dampaknya datang. Namun itulah makna sebuah kata PENYESALAN. Penyesalan tidak pernah datang di awal tapi selalu berada diahir kejadian. Dan kita semua dengan penuh keyakinan pun sangat menyadarinya.
Dalam sebuah hidup yang penuh dengan pilihan, maka tak jarang kita berada dalam kondisi harus memilih dan pada ahirnya harus menyesal dengan pilihan kita sendiri. Jikalau sebuah pilihan itu baik, maka beruntunglah. Manusia yang sadar dan tahu akan penyesalan dibelakang sebuah kejadian, harusnya memang tidak memilih pilihan yang salah. Namun itulah manusia yang selalu mengesampingkan akan makna sebuah penyesalan karena memang manusia itu terkadang tidak benar-benar merasa menyesal. Sifat yang tidak benar-benar merasa menyesal itulah yang terjadi padaku ketika aku mengkonsumsi sambal. Jadi ketika dampak buruk dari sambal itu sudah hilang maka hilang pulalah penyesalan itu. Namun jika ilustrasi sambal itu digantikan dengan sebuah dampak yang besar dari peristiwa yang besar pula, mungkin penyesalan yang sesungguhnya akan terjadi.  

Kalo saya ibaratkan, penyesalan dalam mengkonsumsi sambal itu identik dengan penyesalan seorang koruptor yang kemudian tertangkap KPK dan di vonis ringan kemudian bebas kembali dan korupsi lagi atau pecandu narkoba yang tertangkap polisi, dihukum ringan dan kemudian bebas kembali dan ingin mencoba kembali atau mungkin juga bisa pencandu sex bebas yang tertular penyakit kelamin ringan dan kemudian sembuh dan mencoba lagi. Jadi memang tidak benar-benar konsisten dalam penyesalanya.

Seharusnya untuk sebuah kasus besar yang kita sadari akan dampak negatifnya dan kita sadari pula akan penyesalan yang akan timbul, maka secara cerdas kita dapat melakukan pilihan-pilihan terbaik agar penyesalan itu tidak terjadi. Namun terkadang otak manusia yang selalu penuh dengan rasa penasaran akan terus mencoba-coba sesuatu yang terkadangpun sudah tahu akan resikonya.

Namun demikian tidak semua resiko, dampak dan penyesalan itu adalah negative. Adakalanya kita memang harus mencoba susuatu yang kita belum tahu apa dampak-dampaknya. Dalam sebuah bisnis, istilah trial and error itu biasa, jika kita mencoba sebuah bisnis dan gagal pasti akan ada rasa penyesalan, tapi cobalah kita ambil dari sisi positifnya. Kegagalan sebuah bisnis pasti karena sebuah sebab dan sebab itulah yang ahirnya kita analisa dan temukan untuk di evaluasi agar tidak terulang kembali saat kita akan mencoba lagi. Dibalik sebuah kegagalan dan penyesalan pasti akan ada hikmah dibelakanya untuk dijadikan sebuah panduan ulang agar penyesalan tidak terulang dimasa yang akan datang.

Seperti halnya sambal, nikmat saat menyantapnya memang mantap, dan dampak yang terjadi juga bisa mantap terhadap pencernaan. Jika kita benar-benar menyesal akan dampak sambal, maka kita tidak  akan pernah lagi merasakan nikmatnya sambal. Mungkin perlu dilakukan evaluasi lagi jika kita ingin tetap eksis dalam menikmati sambal dengan cara mengurangi kadar kepedasanya atau mengurangi frekuensi dalam menyantapnya, sehingga dampaknyapun akan tetap terkontrol. Trimakasih (WINDTRA)           

No comments:

Post a Comment