Saturday, 8 October 2011

H U J A N




Sesuatu yang terkadang sangat ditunggu-tunggu, tapi terkadang juga tidak diharapkan kedatanganya, ya…itulah Hujan. Subuah ironi memang, dikala kekeringan meraja lela dan disaat tanaman diladang sangat membutuhkan air, sesuatu ini tidak kunjung datang juga ..lah memang sedang musim kemarau kok..tapi biarlah yang kering menjadi kering karena memang belum musimnya. Tah kalo sudah waktunya musim hujan, tak usah diharap pun pasti sang hujan akan datang juga.



Hujan memang menyejukan bagi yang bahagia dengan kehadiranya, menghidupkan bagi yang membutuhkanya, dan melegakan bagi yang dapat mengais rizki dari turunya hujan. Sumur yang tadinya nyaris kering bahkan sudah kering, akan terisi kembali, pepohonan seakan berucap syukur akan kedatanganya, dan tak luput juga ungkapan kegalauan bagi yang kebanjiran. Itulah bahasa alam dan keseimbanganya, tapi semua itu tak luput juga dari campur tangan prilaku manusia. Mengapa alam selalu mencari keseimbangan…ya memang begitulah hukumnya. Dan kenapa manusia selalu merusak keseimbangan…ya memang begitulah sifatnya.

Singkronisasi antara alam dan manusia itu sampai kapan akan terjalin…? Bukankah tuhan menciptakan alam ini juga untuk manusia, tapi manusia juga yang merusaknya. Sebuah proses hujan, jika kita melihat secara hukum fisika merupakan sesuatu yang sangat sederhana. Proses evaporasi air laut dan danau, kemudian naik ke angkasa sehingga terbentuklah awan, itulah sederhananya. Yang menjadi pertanyaanya, bukankan proses evaporasi itu terjadi setiap hari, tapi kenapa hujan tidak turun setiap hari..?... biarlah alam saja yang menjawabnya

Sebagai manusia memang tak banyak yang bisa kita lakukan terhadapa hukum alam, cukup saja kita menselaraskan apa yang alam kehendaki. Jika kita melawanya, maka jelas akibatnya. Pun juga Tak harus kita ikuti semuanya apa yang dikehendaki alam, cukup dengan jangan terlalu melawanya. Memang butuh sebuah kearifan dalam menyikapinya, dan kearifan ini sebenarnya tidaklah rumit, cukup menyadari, merenungi  dan mensukuri indahnya alam semesta ini, maka segala tindakan yang kontra produktif terhadap alam akan hilang.

Segala bentuk kemurkaan alam ini tak jauh dari tindakan manusia yang selalu melawan alam. Alam kok dilawan…..!!! coba saja jika kearifan ini berkembang sesuai dengan keingan alam, maka indahnya hubungan antara manusia dengan alam akan terjalin dengan baik. Namun demikian sebuah moderenisasi memang butuh sebuah pengorbanan meski harus merusak alam. Bumi di gali untuk di ambil hasilnya dan hasilnya untuk kemakmuran manusia, hutan ditebang dan di ambil hasilnya untuk kemakmuran manusia, meski manusiapun sadar akan dampak yang timbul dari sebuah moderenisasi itu. Mungkin secara hitungan matematika antara keuntungan dan dampaknya sudah dihitung, sehingga keuntungan nya masih lebih dibanding dampaknya…..itulah hitungan bisnis yang memaksakan sebuah teori diatas kertas.
Namanya juga keseimbangan alam, mau di hitung dengan hitungan teori apapun tak akan benar-benar seimbang. Sehingga keseimbanganya akan muncul ketika bencana sudah terjadi. Adil kah hitung-hitungan itu, tentu saja tak ada teori yang bisa menjelaskan jika bencana sudah terjadi. Yang ada adalah menyalahkan alam dengan segala bentuk teori baru yang di ciptakan….alam kok disalahkan…!! Tapi memang begitulah prilaku manusia jika sudah melakukan pembenaran terhadap apapun. Semuanya berdasarkan teori-teori semu yang pasti akan merugikan alam. Memang tak semua manusia itu memiliki ilmu, kearifan dan kesadaran yang sama akan prilaku alam yang bisa saja setiap saat mengamuk demi sebuah keseimbangan. Demi sebuah moderenisasi, maka akal sehat terkadang menjadi sakit. Memang butuh sebuah teori yang benar-benar mumpuni dalam menganalisa hubungan antara moderenisasi dan keseimbangan alam supaya keselarasan antara alam dan moderenisasi tetap terjalin.  Sehingga alam bisa berkembang dengan kodratnya dan manusiapun dapat hidup sesuai dengan fitrahnya.

Begitu juga dengan hujan yang kodratnya menghidupi manusia, sudah sewajarnya jika manusiapun menghargai dan mengikuti apa yang hujan inginkan jika ingin bersahabat dengan hujan. Sebagai air, hujan akan mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah, dan itu sebuah hukum yang tak bisa di tawar lagi alis harga mati. Namun harga mati ini pun terkadang masih ditawar-tawar lagi oleh manusia bahkan ditawar gratis pula. Bagaimana jika sesuatu yang sudah menjadi hukumnya masih saja di lawan, apakah manusia dengan segala bentuk teorinya mampu untuk melawanya.

Bagi yang berbahagia dengan turunya hujan, mungkin masih ada kearifan yang muncul dengan tidak takut akan dampak hujan yang berlebihan karena merasakan hujan tak akan jahat terhadap manusia yang besahabat dengan alam. Namun disisi lain bukan berarti manusia yang terkena dampak limpahan hujan berlebihan merupakan manusia yang kurang arif terhadap alam. Mereka hanya korban dari manusia yang salah dalam menghitung keuntungan dan kerugian akibat sebuah teori.




Jadi jagalah hubungan baik dengan alam, jangan musuhi alam, karena jika alam murka tak hanya kita pribadi yang menanggung tapi juga manusia-manusia lain yang tak ngerti akan hitung-hitungan teori keuntungan dan kerugian akibat dampak yang timbul juga akan menangungnya. Trimakasih.(WINDTRA)                 

No comments:

Post a Comment